- - - - -
Lebih jauh lagi, permasalahan ini tidak berhenti pada aspek perselingkuhan saja. Bidi juga mengungkap bahwa dirinya telah menjadi korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) sejak tahun 2022. Ia mengaku mengalami kekerasan fisik berupa pemukulan yang menyebabkan luka lebam di wajah dan bagian tubuh lainnya, yang terjadi setelah ia memergoki isi pesan pribadi suaminya dengan wanita lain. Situasi ini berdampak signifikan terhadap kondisi psikologis Bidi, yang kemudian mengalami trauma berat, bahkan menunjukkan reaksi psikosomatis seperti kehilangan nafsu makan karena nasi sebagai makanan pokok mengingatkannya pada sosok sang suami.
- - - - -
Setelah melalui berbagai bentuk pengungkapan emosional dan fisik, serta menyadari bahwa tidak ada itikad perbaikan dari pihak suami, Bidi akhirnya memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya. Pengungkapan tersebut diperkuat dengan tindakan suami yang memblokir seluruh akses komunikasi seperti akun Instagram dan WhatsApp, yang menandai terputusnya hubungan komunikasi di antara keduanya. Saat ini, Bidi telah mantap untuk melanjutkan proses hukum berupa gugatan cerai, dan menolak segala bentuk tuntutan maupun permintaan maaf dari pihak suami. Kasus ini menjadi sorotan publik bukan hanya karena keterlibatan tokoh yang sebelumnya dikenal sebagai pasangan ideal atau “pasangan tujuan” , tetapi juga karena mengandung isu-isu serius terkait kekerasan, pengkhianatan, dan dampak psikologis terhadap korban. Dengan demikian, klarifikasi ini menjadi penting dalam memberikan pemahaman yang utuh kepada masyarakat mengenai posisi korban dan pentingnya perlindungan terhadap hak-hak individu dalam rumah tangga, terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan kekerasan dan manipulasi emosional.
